HOME
ABOUT
INFORMASI PPDB
PROFILE
EMAIL
ALUMNI
GALLERY
MENU PEMBELAJARAN
CARRIER
EVENT
ARTICLE
DOWNLOAD

Informasi PPDB


DAFTAR UNIT :



IP Address : 54.80.36.205
Pengunjung : 239.077






Komentar Terbaru :




Newsflash :
PUTRA-PUTRI PESERTA DIDIK JENJANG SMA : SELAMAT MENEMPUH UNBK 2017, SEMOGA SUKSES             |             PROFICIAT KEPADA VENERINI RANUM CLASSY DEWI (SMA STELLA DUCE 2) & LIDWINA AYKE WINAHYU (SMA STELLA DUCE 1) YG MENDAPAT KESEMPATAN MENEMPUH PENDIDIKAN SELAMA 1 TAHUN DI HYOGO KEN HARIMA, JEPANG             |             PROFICIAT UTK KORPS PUTRI TARAKANITA YG MENJADI JUARA FAVORIT DAN JUARA III FRONT ENSEMBLE DLM GRAND PRIX MARCHING BAND (GPMB) 2016             |             SMA TARAKANITA GADING SERPONG TGR MERAIH JUARA 1 OLIMPIADE SOSIOLOGI TINGKAT NASIONAL YG DISELENGGARAKAN OLEH UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA             |             PROFICIAT UTK REYNARD ARDIAN SIMANJUNTAK (SMP STELLA DUCE 1,YK) YG MERAIH JUARA 1 TINGKAT NASIONAL DLM LOMBA INDONESIA ROBOTIK OLIMPIADE DI SURABAYA             |             PROFICIAT UTK SMP ST.CAROLUS SBY ATAS PRESTASI WILLIAM SETIADJI YG MERAIH 'JUARA II' & RAYMOND VALENTINO YG MERAIH 'JUARA I DAN BEST EXPERIMENT' DLM INDONESIA SCIENCE AND MATHEMATICS OLYMPIAD CHALLENGE 2016 TINGKAT NASIONAL             |             PROFICIAT UTK SMP TAR 1 JKT YG MERAIH 'JUARA I GITAR SOLO' DLM FLS2N TINGKAT PROVINSI DKI             |             PROFICIAT KPD CLARISSA FELICIA (KELAS XII MIPA4 SMA STELLA DUCE I,YK) YG MERAIH JUARA II OLIMPIADE BIOLOGI TINGKAT NASIONAL DI YOGYAKARTA             |             PROFICIAT UTK VOCAL GROUP : SMP TARAKANITA 4 (JUARA I), SMP TARAKANITA 3 (JUARA II), SMP TARAKANITA 5 (JUARA III) DALAM FLS2N TINGKAT PROVINSI DKI JAKARTA             |             PROFICIAT UTK NIKITA DEVY HARYONO (SMA STELLA DUCE 1,YK) YG MERAIH JUARA 1 DLM LAWATAN SEJARAH TINGKAT NASIONAL

SEJARAH BERDIRINYA SD TARAKANITA BUMIJO
Y O G Y A K A R T A

Pengantar

Keberadaan SD Tarakanita Bumijo I dan II saat ini tidak terlepas dari sejarah pendirian SD Tarakanita Bumijo masa lalu yang juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan SD Tarakanita IV, V, dan VI serta SD Santo Yusup Dagen sebagai induknya.
Menurut buku kenangan “ CATUR WINDU SD ST. YUSUP DAGEN “ 1 September 1938 sampai dengan 1 September 1970 SD St. Yusup Dagen berdiri sejak 1 September 1938 di Jalan Dagen No. 32 Yogyakarta.
Perkembangan SD St. Yusup sejak berdirinya sampai peringatan catur windu pada tgl 1 September 1970 telah diungkapkan dalam buku kenangan tersebut meskipun sangat singkat. Perkembangan SD St. Yusup mengalami pasang surut seiring dengan masa pendudukan Belanda, masa pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan.

Latar Belakang Berdirinya SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI

Tanggal 30 September 1965 G.30 S/PKI meletus, dampaknya semua organisasi massa, organisasi politik dan organisasi sosial yang berbau komunis dibubarkan oleh pemerintah.
Tak terkecuali sekolah-sekolah khusus Tionghoa ( China ) kena dampaknya, karena pada waktu itu Partai Komunis Indonesia berkiblat ke China. Dalam politik dikenal poros Jakarta-Peking.
SD Santo Yusup bukanlah sekolah tinggi Tionghoa, tetapi hampir 100 % siswanya Tionghoa. Hanya ada 1 atau 2 orang anak India dan kadang-kadang ada 1 anak pribumi setiap kelasnya.Maka tidak terlalu mudah untuk membedakan sekolah Tionghoa dengan SD St. Yusup Dagen. Mereka tidak tahu bahwa SD St. Yusup Dagen adalah Sekolah Umum.
Dalam perjuangan pemerintah untuk menumpas pengaruh komunisme sampai ke akar-akarnya, tidak jarang SD St Yusup mendapat sorotan tajam dan ancaman dari luar, karena memang hampir 100 % siswanya anak-anak Tionghoa. Ada banyak orang Tionghoa mempunyai dwi kewarganegaraan, Indonesia dan China. Pemerintah menentukan untuk memilih di antara 2 opsi, menjadi WNI atau menjadi WNA dengan segala konsekuensinya. Bagi yang memilih menjadi WNI, dianjurkan mengganti namanya dengan nama Indonesia. Ini dimaksudkan untuk memantapkan bahwa mereka adalah sungguh-sungguh WNI.
Dalam mempercepat proses persatuan bangsa, pemerintah juga menganjurkan ”Pembauran ’’ antara warga pribumi dengan non pribumi ( Tionghoa ) dengan melalui kebudayaan, perkawinan, sekolah-sekolah, organisasi sosial dan kemasyarakatan, dsb.
Sangat dianjurkan agar warga keturunan tidak hidup eksklusif, dan kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa :
a.    SD St. Yusup yang sebenarnya sekolah umum, hampir 100 % siswanya Tionghoa. Pada hal hanya ada kurang lebih 10% guru Tionghoa, itupun WNI.
b.    SD St. Yusup tetap saja mendapatkan stempel sekolah Tionghoa.
c.    Penggantian nama saja tidak cukup efektif untuk menjadikan seseorang menyadari sebagai WNI.
d.    Anjuran tidak hidup eksklusif bagi warga keturunan berjalan lamban dan memang perlu waktu panjang.

Riwayat SD Tarakanita Bumijo IV, V. dan VI

Anjuran pemerintah untuk mempercepat proses persatuan bangsa, ditanggapi oleh Yayasan Tarakanita dengan pembauran di bidang pendidikan dasar. Maka dimulailah memikirkan untuk membaurkan SD Tarakanita Bumijo yang hampir 100 % siswanya pribumi dengan SD St. Yusup yang hampir 100 % siswanya keturunan. Kira-kira tahun 1970 mulai diadakan persiapan-persiapan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Adapun cara-cara yang ditempuh al :
a.    menyampaikan permohonan untuk memindahkan SD St. Yusup IPDA Wilayah Yogya Barat ke SD Tarakanita Bumijo IPDA Wilayah Yogya Utara kepada Dinas Pendidikan Propinsi DIY.
b.    memindahkan lokasi SMP StellaDuce dari Bumijo ke Dagen.
c.    Menyiapkan tambahan ruang belajar secukupnya di Bumijo.
d.    Mengadakan beberapa kali pertemuan antara wakil-wakil guru dari SD Tarakanita Bumijo dengan wakil-wakil guru dari SD St. Yusup yang difasilitasi oleh Yayasan Tarakanita.
Tujuan pertemuan-pertemuan tersebut adalah :
a.    mengusahakan terciptanya suasana yang kondusif agar antara guru dan karyawan SD St Yusup dan SD Tarakanita Bumijo dapat bekerja sama dengan baik, saling menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing, sebagai teman yang sederajat.
b.    Mencari solusi terbaik cara membaurkan siswa-siswi SD St Yusup dengan siswa-siswi SD Tarakanita Bumijo.
Setelah melalui beberapa kali pertemuan, dicapailah beberapa kesepakatan sbb :
1.    SD Tarakanita Bumijo yang tadinya ada 3 paralel Sd Tarakanita Bumijo I, II, dan III menjadi SD Tarakanita Bumijo I, II, III, IV, V, dan VI.
2.    SD St. Yusup dibubarkan dan semua siswanya dipindahkan ke SD Tarakanita Bumijo.
3.    Semua guru dan karyawan SD St. Yusup I, II, dan III dimutasikan ke SD Tarakanita Bumijo IV,V, dan VI.
Dengan mempertimbangkan dampak psikologis yang mungkin timbul, maka dalam membaurkan siswanya SD St. Yusup dan SD Tarakanita Bumijo menempuh cara sbb :
a.    siswa-siswi kelas IV, V, dan VI SD St. Yusup dipindahkan masuk ke kelas IV, V, dan VI SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI.
b.    50% siswa kelas I, II, dan III SD St. Yusup dipindahkan ke SD Tarakanita Bumijo I, II, dan III.
c.    50% siswa kelas I, II, dan III SD St. Yusup dipindahkan ke SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI.
d.    50% siswa kelas I, II, dan III SD Tarakanita Bumijo dipindahkan ke SD Tarakanita Bumijpo IV, V, dan VI.

Setelah semua persiapan selesai, liburan akhir tahun pelajaran 1971 ( November – Desember ), SMP Stella Duce pindah ke Dagen dan SD St. Yusup Dagen pindah ke Bumijo.
Tepat tanggal 1 Januari 1972, SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI berdiri di Bumijo.
Komposisi guru dan siswanya seperti kesepakatan di atas. Khusus untuk jabatan pimpinan umum ( koordinator ) SD Tarakanita Bumijo I sd VI diambilkan dari luar Bumijo maupun Dagen. Pejabat Koordinatris I adalah Sr. Cecila, CB, yang sebelumnya menjabat Pimpinan Noviciat Suster-Suster Carolus Boromeus ( CB ).
Karena SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI adalah SD baru, maka semua siswanya mendapatkan nomor induk baru, mulai dari nomor induk 1,2,3,…dst.
Akibat dari kepindahan SD St Yusup Dagen ke SD Tarakanita Bumijo, beberapa orang tua murid SD St. Yusup memindahkan anak-anaknya ke SD Pangudi Luhur dan SD Marsudirini. Namun beberapa hari/minggu kemudian, sebagian anak-anak minta kembali ke SD Tarakanita Bumijo berkumpul dengan teman-temannya yang dulu.

Selama beberapa bulan, para guru dan karyawan saling berusaha menyesuaikan diri satu sama lain dengan situasi dan kondisi yang baru. Saling menyesuaikan juga terjadi antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa pribumi dan keturunan. Anak-anak Tionghoa yang pad umumnya dinamis, memberi pengaruh positif pada anak-anak pribumi yang cenderung penurut. Anak-anak pribumi menjadi dinamis setelah mereka saling kenal. Demikian juga anak-anak keturunan lebih menyelami budaya Jawa. Mereka saling berinteraksi secara alami.
Setelah mengamati perkembangan selama satu tahun, maka diputuskan bahwa untuk masuk ke SD Tarakanita Bumijo I sd VI hanya dibuka melalui satu pintu. Siswa masuk disebar secara merata menjadi 6 kelas. Policy ini dijalankan terus sampai sekarang.
Pada tahun ke empat, komposisi siswa setiap kelas sudah menjadi kurang lebih 50% keturunan dan 50% pribumi. Ada kalanya terjadi, dalam satu kelas lebih banya anak keturunan daripada anak pribumi karena pada saat pendaftaran sudah memakai nama Indonesia. Bagi guru yang ingin tahu secara pasti apakah seorang anak pribumi atau keturunan dapat melacak nama itu melalui nomor seri Akta kelahirannya.

Hasil yang dicapai SD Tarakanita Bumijo I sd VI sejak pembauran 1 Januari 1972, hasilnya sangatlah menggembirakan. Pembauran bukan hanya terjadi pada para siswanya namun juga guru dan bahkan antar orang tua siswa/ wali murid hingga kini.

REGROUPING SD Tarakanita Bumijo I sd VI menjadi SD Tarakanita Bumijo I dan II

Menyikapi perkembangan jaman dan tuntutan kemajuan teknologi serta mekanisme birokrasi yang dijalankan pada tahun 2005, banyak sekolah-sekolah negeri maupun swasta yang kekurangan siswa, banyak sekolah swasta yang akhirnya memilih untuk tutup,untuk sekolah negeri dilakukan Regrouping oleh pemerintah guna pemberdayaan guru yang notabine pegawai pemerintah ( PNS ).

Seiring dengan pelaksanaan re-organisasi di tubuh Yayasan Tarakanita dan demi efektifitas serta efisiensi pengelolaan pelayanan pendidikan di SD Tarakanita, maka SD Tarakanita Bumijopun tidak luput dari dampak tersebut. Atas permohonan dari pihak Yayasan Tarakanita Kantor  Wilayah Yogyakarta kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, No 148/PR.SD.Bmj/Perso/YTW/IV/2005 tertanggal 5 April 2005 yang kemudian juga mendapatkan Surat Persetujuan dan Penetapan dari Badan Pengurus Yayasan Tarakanita Pusat No. 160/SK.regroup/PYT/VII/2005 tertanggal 1 Juli 2005  SD Tarakanita Bumijo diregrouping dari SD Tarakanita Bumijo I sd VI menjadi SD Tarakanita Bumijo I dan II. Hal itu dikuatkan dan disahkan melalui Peraturan Walikota Yogyakarta No. 81 Tahun 2005 tertanggal 10 Agustus 2005 tentang Penggabungan dan Penetapan Kelembagaan Sekolah Dasar di Kota Yogyakarta.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka sekolah mengambil langkah untuk segera menggabungkan siswanya dari 6 sekolah menjadi 2 sekolah dengan komposisi sbb :
a.    SD Tarakanita Bumijo I, sebagai sekolah Induk yang digabungi oleh SD Tarakanita Bumijo III , sehingga SD Tarakanita Bumijo I meliputi : SD Tarakanita Bumijo I ( A1 dan A2, serta SD Tarakanita III atau C ).
b.    SD Tarakanita Bumijo II, sebagai sekolah induk yang digabungi oleh SD Tarakanita Bumijo IV, V, dan VI, sehingga SD Tarakanita Bumijo II meliputi : SD Tarakanita Bumijo II , IV, V, dan VI atau SD Tarakanita B,D,E, dan F ).
Demikian juga para guru pada formasi sekolah-sekolah yang digabung tersebut secara serta merta masuk pada formasi baru sesuai dengan sekolah induknya : Guru SD Tarakanita III masuk ke formasi SD Tarakanita Bumijo I dan Guru SD Tarakanita IV, V, dan VI masuk pada formasi SD Tarakanita Bumijo II. Kemudian selama kurun waktu 8 tahun dari tahun 1998 sd 2006 para guru senior SD tarakanita mulai memasuki masa Purna Tugas, sehingga pada tahun 2006 praktis guru-guru yang mengajar hampir 80 % guru baru dengan latar belakang akademik S.1 jurusan PGSD bagi guru baru dan D.II penyetaraan bagi guru lama.
Demikian secara sekilas sejarah SD Tarakanita Bumijo I dan II sekarang, dalam perjalanan karya pelayanannya di bidang pendidikan mulai tahun 1938 s.d. tahun 2006.